ASI
A. Proses Pembentukan
Sejak kehamilan muda , sudah terdapat
persiapan-persiapan pada kelenjar-kelenjar mammae untuk menghadapi masa
laktasi. Perubahan yang terdapat pada
kedua mammae adalah sebagai berikut :
1. Proliferasi jaringan, terutama kelenjar-kelenjar
alveolus mammae dan lemak.
2. Pada Duktus Laktiferus tedapat
cairan yang kadang - kadang dapat dikeluarkan berwarna kuning (kolostrum).
3. Hypervaskularisasi terdapat pada
permukaan maupun pada bagian dalam mammae
Proses terbentuknya ASI
Tahapan-tahapan yang terjadi dalam proses laktasi mencakup :
Tahapan-tahapan yang terjadi dalam proses laktasi mencakup :
1.
Mammogenesis
: Terjadi pertumbuhan payudara baik dari ukuran maupun berat dari payudara
mengalami peningkatan.
2.
Laktogenesis :
a.
Tahap
1 (kehamilan akhir) : Sel alveolar berubah menjadi sel sekretoris
b.
Tahap
2 (hari ke-3 hingga ke-8 kelahiran) : Mulai terjadi sekresi susu, payudara
menjadi penuh dan hangat. Kontrol endokrin beralih menjadi autokrin.
3.
Galaktopoeisis
4.
Involution
Pembentukan ASI
dipengaruhi oleh hormon Prolaktin yang dihasilkan oleh kelenjar hypofisis.
Selama terbentuk hormon estrogen oleh plasenta, maka pembentukan prolaktin
terhambat. Setelah persalinan, dengan berhentinya pengaruh hormon estrogen,
maka hormon prolaktin meningkat dan keadaan
ini menyebabkan kelenjar-kelenjar mammae membentuk ASI. Pada hari
pertama dan kedua ASI belum keluar, tapi kolostrum sudah keluar.
Ada dua refleks yang
sangat penting dalam proses produksi dan pengeluaran ASI, yaitu :
1.
Refleks
Prolaktin
Dalam puting
susu terdapat banyak ujung saraf peraba. Bila ini dirangsang maka akan timbul
impuls yang menuju hypothalamus kemudian merangsang hypofisis bagian depan
sehingga kelenjar ini mengeluarkan hormon prolaktin. Hormon inilah yang
memegang peranan utama dalam produksi ASI di tingkat alveolus. Dengan demikian
mudah dipahami bahwa makin sering rangsangan penyusuan maka makin banyak
produksi ASI.
2.
Refleks
Aliran ( let down refleks)
Rangsangan yang
berasal dari puting susu, tidak hanya diteruskan sampai ke kelenjar hypofisis
depan, tapi juga hypofisis bagian belakang. Akibatnya bagian ini mengeluarkan
hormon oksitosin. Hormon ini berfungsi memacu kontraksi otot polos yang ada di
dinding alveolus dan dinding saluran, sehingga ASI dipompa keluar.
B.
Komposisi ASI Sesuai Dengan Tumbuh Kembang Bayi
ASI adalah
makanan terbaik untuk bayi. Kandungan gizi dari ASI sangat khusus dan sempurna
serta sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang bayi. ASI dibedakan dalam tiga
fase :
1.
Kolostrum
Kolostrum adalah air susu yang pertama kali keluar. Kolostru ini
disekresi oleh kelenjar payudara pada hari npertama sampai hari ke empat pasca
persalinan. Kolostrum merupakan cairan dengan viskositas kental, lengket dan
berwarna kekuningan. Kolostrum mengandung tinggi protein, mineral, garam,
vitamin A, nitrogen, sel darah putih dan antibody yang tinggi daripada ASI
matur. Ini sangat dibutuhkan bayi karena pada masa ini bayi sangat rentan
terhadap penyakit. Selain itu , kolostrum masih mengandung rendah lemak dan
laktosa. Protein utama pada kolostrum adalah Immunoglobulin (Ig A, Ig G, Ig M),
yang digunakan sebagai zat antibody untuk mencegah dan menetralisir bakteri,
virus, jamur, dan parasit.
Meskipun kolostrum yang keluar sedikit menurut ukuran kita, tetapi
volume kolostrum yang ada dalam payudara mendekati kapasitas lambung bayi yang
berusia 1-2 hari.Volume kolostrum antara 150-300 ml/24 jam.
Kolostrum juga merupakan pencahar ideal untuk membersihkan zat yang
tidak terpakai dari usus bayi baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan
bayi untuk menerima makanan selanjutnya.
2.
ASI
transisi
Adalah ASI yang
keluar sesudah kolostrum sampai sebelum ASI matang, yaitu sejak hari ke-4
sampai hari ke-10. Selam 2 minggu, volume air susu bertambah banyak dan berubah
warna sera komposisinya. Kadar Immunoglobulin dean protein menurun, sedangkan
lemak dan laktosa meningkat.
3.
ASI
matur
ASI matur
disekresi pada hari ke-10 dan seterusnya. ASI matur tampak berwarna putih.
Kandungan ASI matur relatif konstan, tidak menggumpal bila dipanaskan. Ais susu
yang mengalir pertama kali (5 menit pertama) disebut foremik. Foremik ini lebih
encer. Foremik mempunyai kandungan rendah lemak dan tinggi laktosa, gula
protein, mineral, dan air.
Selanjutnya,
air susu berubah menjadi hindmilk. Hindmilk kaya akan lemak dan nutrisi.
Hindmilk membuat bayi akan lebih cepat kenyang. Ini sangat dibutuhkan bayi
sesuai dengan tingkat tumbuh kembangnya.
C. Nutien Yang Terkandung Dalam ASI
1.
Lemak
Sumber kalori utama dalam ASI adalah lemak. Kadar lemak dalam ASI
antara 3,5-4,5%. Walaupun kadar lemak dalam ASI tinggi, tetapi mudah diserap
oleh bayi karena trigliserida dalam ASI lebih dulu dipecah menjadi asam lemak
dan gliserol oleh enzim lipase yang terdapat dalam ASI. Kadar kolesterol ASI
lebih tinggi daripada susu sapi, sehingga bayi yang mendapat ASI seharusnya
mempunyai kadar kolesterol darah lebih tinggi, tetapi ternyata penelitian
Osborn membuktikan bahwa bayi yang tidak mendapat ASI lebih banyak menderita
penyakit jantung koroner pada usia muda.
Diperkirakan bahwa pada masa bayi diperlukan kolesterol pada kadar
tertentu untuk merangsang pembentukan enzim protektif yang membuat metabolisme
kolesterol menjadi efektif pada usia dewasa.
2.
Karbohidrat
Karbohidrat utam dalam ASI adalah laktose, yang kadarnya paling
tinggi dibanding susu mamalia lain (7gr%). Laktose mudah dipecah menjadi glukose
dan galaktose dengan bantuan enzim laktase yang sudah ada dalam mukose saluran
pencernaan sejak bayi lahir. Laktose mempunyai manfaat lain, yaitu mempertinggi
absorbsi kalsium dan merangsang pertumbuhan laktobasilus bifidus.
3.
Protein
Protein dalam susu adalah chasein dan whey. Kadar protei ASI
sebesar 0,9%. 60% di antaranya adalah whey, yang lebih mudah dicerna dibanding
chasein (protein utama dalam susu sapi). Kecuali mudah dicerna, dalam ASI
terdapat dua macam asam amino yang tidak terdapat dalam susu sapi, yaitu sistin
dan taurin. Sistin diperlukan untuk pertumbuhan somatik, sedangkan taurin untuk
pertumbuhan otak. Selain dari ASI, sebenarnya sistin dan taurin dapat diperoleh
dari penguraian tirosin, tetapi pada bayi baru lahir pengurai tirosin ini belum
ada.
4.
Garam
dan Mineral
Ginjal neonatus belum dapat mengonsentrasikan air kemih dengan
baik, sehingga diperlukan susu dengan kadar garam dan mineral yang rendah. ASI
mengandung garam dan mineral lebih rendah dibanding susu sapi.Bayi yang
mendapat susu sapi atau susu formula yang tidak dimodifikasi dapat menderita
tetani karena hypokalsemia.
Kadar kalsium dalam susu sapi lebih tinggi dibanding ASI, tetapi
kadar fosfornya jauh lebih tinggi, sehingga mengganggu penyerapan kalsium juga
magnesium.
ASI dan susu sapi mengandung zat besi dalam kadar yang tidak
terlalu tinggi, tetapi zat besi dalam ASI lebih mudah diserap. Dalam badan bayi
terdapat cadangan zat besi, di samping itu terdapat zat besi yang berasal dari
eritrosit yang pecah, bila ditambah zat besi yang berasal dari ASI, maka bayi
akan cukup mendapat zat besi sampai usia 6 bulan.
Zink diperlukan untuk tumbuh kembang, sistem immunitas dan mencegah
penyakit-penyakit tertentu seperti akrodermatitis enteropatika (penyakit yang
mengenai kulit dan sisitem pencernaan dan dapat berakibat fatal). Bayi yang
mendapat ASI cukup medapatkan zink sehingga terhindar dari penyakit ini.
5.
Vitamin
ASI cukup mengandung vitamin yang diperlukan bayi. Vitamin K yang
berfungsi sebagai katalisator pada proses pembekuan darah terdapat dalam ASI
dalam jumlah yang cukup dan mudah diserap.
Dalam ASI juga banyak vitamin E, terutama kolostrum.
Dalam ASI juga terdapat vitamin D, tetapi bayi prematur atau yang
kurang mendapat sinar matahari (di negar empat musim), dianjurkan pemberian
suplemen vitamin D.
D.
Zat Protektif Yang Terdapat Dalam ASI
Bayi yang mendapat
ASI lebih jarang menderita penyakit,
karena adanya zat protektif dalam ASI. Zat protektif tersebut di antaranya :
1.
Laktobasilus
Bifidus
Laktobasilus
Bifidus berfungsi mengubah laktose menjadi asam laktat dan asam asetat. Kedua
asam ini menjadikan saluran pencernaan bersifat asam sehingga menghambat
pertumbuhan mikroorganisme seperti E.Coli (yang sering menyebabkan diare pada
bayi), Shigela dan jamur. Laktobasilus mudah tumbuh cepat dalam usus bayi yang
mendapat ASI, karena ASI mengandung polisakarida yang berikatan dengan nitrogen
yang diperlukan untuk pertumbuhan Laktobasilus Bifidus. Susu sapi ini tidak
mengandung faktor ini.
2.
Laktoferin
Laktoferin
adalah protein yang berikatan dengan zat besi. Konsentrasinya dalam ASI sebesar
100 mg/100 ml, tertinggi di antar semua cairan biologis. Dengan mengikat zat
besi, maka laktoferin bermanfaat menghambat pertumbuhan kuman tertentu, yaitu stafilokokus dan E.coli
yang juga memerlukan zat besi untuk pertumbuhannya. Kecuali menghambat bakteri
tersebut, laktoferin juga menghambat pertumbuhan jamur kandida.
3.
Lisozim
Lisozim adalam
enzim yang dapat memecah dinding bakteri. Konsentrasinya dalam ASI sebesar 29-39
mg/100 ml, merupakan konsentrasi terbesar di dalam cairan ekstraseluler. Kadar
Lisozim ASI 300 kali lebih tinggi dibanding susu sapi. Lisozim stabil dalam
cairan dengan pH rendah seperti cairan lambung, sehingga masih banyak dijumpai
lisozim dalam tinja bayi.
4.
Komplemen
C3 dan C4
Kedua komplemen
ini walaupun kadarnya dalam ASI rendah, mempunyai daya opsonik, anafilaktosik,
dan kemotaktik, yang bekerja apabila diaktifkan oleh IgA dan IgE yang juga
terdapat dalam ASI.
5.
Faktor
antistreptococcus
Dalam ASI terdapat
faktor antistreptococcus yang melindungi bayi terhadap infeksi kuman tersebut.
6.
Antibody
Secara
elektroforetik, kromatografikdan radio immunoassayterbukti bahwa ASI terutama
kolostrum mengandung Immunoglobulin,yaitu sekretori IgA (SigA), IgE,IgM, dan
IgG. Dari semua Immunoglobulin tersebut yang terbanyak adalah SigA. Antibody
dalam ASI dapat bertahan di dalam saluran pencernaan bayi karena tahan terhadap
asam dan enzim proteolitik saluran pencernaan dan membuat lapisan pada
mukosanya sehingga mencegah bakteri patogen dan enterovirus masuk ke dalam
mukosa usus.
Dalam tinja
bayi yang mendapat ASI terdapat antibodi terhadap bakteri E.Coli dalam
konsentrasi yang tinggi sehingga bakteri E.Coli dalam tinja bayi tersebut juga
rendah.
Di dalam ASI
kecuali antibodi terhadap enterotoksin E.Coli, juga pernah dibuktikan adanya
antibodi terhadap salmonella Typhii, Shigella,dan antibodi terhadap virus
seperti rotavirus, polio, dan campak.
Antibodi
terhadap rotavirus tinggi dalam kolostrum, yang kemudian turun pada minggu
pertama dan bertahan sampai umur 2 tahun.
Dalam ASI juga
terdapat antigen terhadap Helicobacter Jejuni penyebab diare. Kadarnya dalam
kolostrum tinggi dan menurun pada usia 1 bulan dan kemudian menetap selama
menyusui.
7.
Immunitas
seluler
ASI mengandung
sel-sel. Sebagian besar (90%) sel tersebut berupa makrofag yang berfungsi
membunuh dan memfagositosis mikroorganisme, membentuk C3 dan C4, lisozim, dan
laktoferin. Sisanya (10%) terdiri dari lifosit B dan T. Angka leukosit pada
kolostrum kira-kira 5000/ml, setara dengan angka leukosit darah tepi, tetapi
komposisinya berbeda dengan darah tepi, karena hampir semuanya berupa
polimorfonuklear dan mononuklear. Dengan meningkatnya volume ASI angka leukosit
menurun menjadi 2000/ml. Walaupun demikian kapasitas antibakterinya sama
sepanjang stadium laktasi.
Konsentrasi
faktor antiinfeksi tinggi dalam kolostrum.
Kadar SigA,
laktoferin, Lisozim, dan sel seperti makrofag, neutrofil dan limfosit lebih
tinggi pada ASI prematur dibanding ASI matur.
8.
Tidak
menimbulkan alergi
Pada bayi baru
lahir sistem IgE belum sempurna. Pemberian susu formula akan merangsang
aktifasi sistem ini dan dapat menimbulkan alergi.ASI tidak menimbulkan efek
ini. Pemberian protein asing yang ditunda sampai umur 6 bulan akan mengurangi
kemungkinan alergi ini.
E.
Pembahasan
Air Susu Ibu (ASI) adalah minuman
alamiah utama untuk semua bayi cukup bulan yang diperuntukan selama usia
bulan-bulan pertama kehidupan bayi (Nelson, 2000). ASI dianggap sebagai nutrisi
terbaik bagi neonatus dan infant.
ASI selalu mudah tersedia pada suhu yang sesuai diinginkan bayi dan tidak memerlukan
banyak waktu untuk persiapannya. Substansi ASI segar dan bebas dari kontaminasi
bakteri yang berbahaya sehingga mengurangi peluang gangguan pencernaan.
Berbagai kandungan dari susu ibu dapat memfasilitasi transisi kehidupan bayi dari in utero menjadi ex utero. Cairan dinamis ini menyediakan berbagai substansi bioaktif yang diperlukan bagi perkembangan bayi selama periode kritis pertumbuhan otak, sistem imunitas dan saluran pencernaan. Selama masa laktasi kelenjar air susu berkembang hingga mencapai kapasitasnya untuk memproduksi ASI melalui berbagai tahapan perkembangan.
Berbagai kandungan dari susu ibu dapat memfasilitasi transisi kehidupan bayi dari in utero menjadi ex utero. Cairan dinamis ini menyediakan berbagai substansi bioaktif yang diperlukan bagi perkembangan bayi selama periode kritis pertumbuhan otak, sistem imunitas dan saluran pencernaan. Selama masa laktasi kelenjar air susu berkembang hingga mencapai kapasitasnya untuk memproduksi ASI melalui berbagai tahapan perkembangan.
Komposisi ASI yang keluar pada hari
pertama sampai hari ke-4 (kolostrum) berbeda dengan ASI yang diproduksi hari ke-4 sampai hari ke-7/10 (ASI transisi)
dan ASI selanjutnya ( ASI matur). Komposisi tersebut sesuai dengan kebutuhan
bayi pada keadaan masing-masing.
ASI mengandung zat gizi yang sangat lengkap, antara lain
zat putih telur, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, faktor pertumbuhan,
hormone, enzim, dan zat kekebalan. Semua zat ini terdapat secara proporsional
dan seimbang satu dengan lainnya. ASI merupakan nutrisi yang paling lengkap
untuk pertumbuhan bayi, sehingga tidak mungkin ditiru oleh buatan manusia.
Pemberian ASI sangat dianjurkan bagi bayi karena memberikan
keuntungan yang sangat besar. Bayi yang diberikan ASI (setidaknya selama 6
bulan) memiliki penurunan resiko terhadap berbagai penyakit akut maupun kronis,
termasuk infeksi saluran pencernaan (diare), infeksi saluran nafas bawah (flu),
infeksi saluran kencing, infeksi telinga (otitis media), dan reaksi alergi
(seperti dermatitis atopi dan asma). ASI berisi antibodi bakteri dan virus
termasuk kadar antibodi IgA sekretori dan makrofag dalam kolostrum yang relatif
tinggi hingga mampu mencegah mikroorganisme.
Selain
itu, anak yang diberikan ASI secara penuh selama 6 bulan atau lebih memiliki
kecenderungan untuk memperoleh perkembangan mental yang lebih tinggi
dibandingkan bayi yang tidak diberikan ASI. Beberapa penelitian menunjukkan
bahwa efek dari ASI kemungkinan melindungi anak atau remaja dari kelebihan
berat badan. ASI dari ibu yang dietnya cukup imbang dan bergizi akan memasok
nutrisi yang sangat diperlukan bayi.
Menyusui dengan ASI sangat bermanfaat bagi
psikologis ibu maupun bayi dan memberikan pengalaman yang memuaskan bagi
keduanya. Ibu yang secara pribadi terlibat dalam pengasuhan bayinya akan
memperbesar perasaan berbahagia dan prestasi sebagai ibu yang baik. Bayi
diberikan kedekatan hubungan fisik dengan ibu yang baik dan menyenangkan.
Menyusui memberikan tambahan kesempatan untuk berkontak rasa yang erat antara
ibu dan bayinya.
Secara rinci dapat dijelaskan beberapa keuntungan pemberian ASI dilihat dari beberapa aspek.
Secara rinci dapat dijelaskan beberapa keuntungan pemberian ASI dilihat dari beberapa aspek.
1. Aspek Gizi.
a. Manfaat Kolostrum
1) Kolostrum mengandung zat kekebalan terutama IgA untuk melindungi bayi
dari berbagai penyakit infeksi terutama diare.
2) Jumlah kolostrum yang diproduksi bervariasi tergantung dari hisapan
bayi pada hari-hari pertama kelahiran. Walaupun sedikit namun cukup untuk
memenuhi kebutuhan gizi bayi. Oleh karena itu kolostrum harus diberikan pada
bayi.
3) Kolostrum mengandung protein,vitamin A yang tinggi dan mengandung
karbohidrat dan lemak rendah, sehingga sesuai dengan kebutuhan gizi bayi pada
hari-hari pertama kelahiran.
4) Membantu mengeluarkan mekonium yaitu kotoran bayi yang pertama berwarna
hitam kehijauan.
a.
Komposisi ASI
1) ASI mudah dicerna, karena selain mengandung zat gizi yang sesuai, juga mengandung enzim-enzim untuk mencernakan zat-zat gizi
yang terdapat dalam ASI tersebut.
2) ASI mengandung zat-zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk
pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi/anak.
3) Selain mengandung protein yang tinggi, ASI memiliki perbandingan antara
Whei dan Casein yang sesuai untuk bayi. Rasio Whei dengan Casein merupakan
salah satu keunggulan ASI dibandingkan dengan susu sapi. ASI mengandung whey
lebih banyak yaitu 65:35. Komposisi ini menyebabkan protein ASI lebih mudah
diserap. Sedangkan pada susu sapi mempunyai perbandingan Whey :Casein adalah 20
: 80, sehingga tidak mudah diserap.
4) Komposisi Taurin, DHA dan AA pada ASI
a) Taurin adalah sejenis asam amino kedua yang terbanyak dalam ASI yang
berfungsi sebagai neuro-transmitter dan berperan penting untuk proses maturasi
sel otak. Percobaan pada binatang menunjukkan bahwa defisiensi taurin akan
berakibat terjadinya gangguan pada retina mata.
b) Decosahexanoic Acid (DHA) dan Arachidonic Acid (AA) adalah asam lemak
tak jenuh rantai panjang (polyunsaturated fatty acids) yang diperlukan untuk
pembentukan sel-sel otak yang optimal. Jumlah DHA dan AA dalam ASI sangat mencukupi untuk menjamin
pertumbuhan dan kecerdasan anak. Disamping itu DHA dan AA dalam tubuh dapat
dibentuk/disintesa dari substansi pembentuknya (precursor) yaitu masing-masing
dari Omega 3 (asam linolenat) dan Omega 6 (asam linoleat).
2. Aspek Imunologik
a.
ASI mengandung zat anti infeksi, bersih dan
bebas kontaminasi.
b.
Immunoglobulin A (Ig.A) dalam kolostrum atau ASI
kadarnya cukup tinggi. Sekretori Ig.A tidak diserap tetapi dapat melumpuhkan
bakteri patogen E. coli dan berbagai virus pada saluran pencernaan.
c.
Laktoferin yaitu sejenis protein yang merupakan
komponen zat kekebalan yang mengikat zat
besi di saluran pencernaan.
d.
Lysosim, enzym yang melindungi bayi terhadap
bakteri (E. coli dan salmonella) dan virus. Jumlah lysosim dalam ASI 300 kali
lebih banyak daripada susu sapi.
e.
Sel darah putih pada ASI pada 2 minggu pertama
lebih dari 4000 sel per mil. Terdiri dari 3 macam yaitu: Brochus-Asociated
Lympocyte Tissue (BALT) antibodi pernafasan, Gut Asociated Lympocyte Tissue
(GALT) antibodi saluran pernafasan, dan Mammary
Asociated Lympocyte Tissue (MALT) antibodi jaringan payudara ibu.
f.
Faktor bifidus, sejenis karbohidrat yang
mengandung nitrogen, menunjang pertumbuhan bakteri lactobacillus bifidus.
Bakteri ini menjaga keasaman flora usus bayi dan berguna untuk menghambat
pertumbuhan bakteri yang merugikan.
3. Aspek Psikologik
a.
Rasa percaya diri ibu untuk menyusui : bahwa ibu
mampu menyusui dengan produksi ASI yang mencukupi untuk bayi. Menyusui
dipengaruhi oleh emosi ibu dan kasih saying terhadap bayi akan meningkatkan
produksi hormon terutama oksitosin yang pada akhirnya akan meningkatkan
produksi ASI.
b.
Interaksi Ibu dan Bayi: Pertumbuhan dan
perkembangan psikologik bayi tergantung pada kesatuan ibu-bayi tersebut.
c.
Pengaruh kontak langsung ibu-bayi : ikatan kasih
sayang ibu-bayi terjadi karena berbagai rangsangan seperti sentuhan kulit (skin
to skin contact). Bayi akan merasa aman dan puas karena bayi merasakan
kehangatan tubuh ibu dan mendengar denyut jantung ibu yang sudah dikenal sejak
bayi masih dalam rahim.
4. Aspek Kecerdasan
a.
Interaksi ibu-bayi dan kandungan nilai gizi ASI
sangat dibutuhkan untuk perkembangan system syaraf otak yang dapat meningkatkan
kecerdasan bayi.
b.
Penelitian menunjukkan bahwa IQ pada bayi yang
diberi ASI memiliki IQ point 4.3 point lebih tinggi pada usia 18 bulan, 4-6
point lebih tinggi pada usia 3 tahun, dan 8.3 point lebih tinggi pada usia 8.5
tahun, dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI.
5. Aspek Neurologis
Dengan menghisap
payudara, koordinasi syaraf menelan, menghisap dan bernafas yang terjadi pada
bayi baru lahir dapat lebih sempurna.
6. Aspek Ekonomis
Dengan menyusui
secara eksklusif, ibu tidak perlu mengeluarkan biaya untuk makanan bayi sampai
bayi berumur 4 bulan. Dengan demikian akan menghemat pengeluaran rumah tangga
untuk membeli susu formula dan peralatannya.
7. Aspek Penundaan Kehamilan
Dengan menyusui
secara eksklusif dapat menunda haid dan kehamilan, sehingga dapat digunakan
sebagai alat kontrasepsi alamiah yang secara umum dikenal sebagai Metode
Amenorea Laktasi (MAL).
Selain beberapa aspek di atas, masih ada
beberapa manfaat ASI yang lain, di
antaranya yaitu :
1.
Mengurangi kejadian karies dentis
Insiden karies dentis pada bayi
yang mendapat susu formula jauh lebih tinggi disbanding yang mendapat ASI,
karena kebiasaaan menyusui dengan botol dan dot terutama pada waktu akan tidur
menyebabkan gigi lebih lama kontak dengan sisa susu formula dan menyebabkan
asam yang terbentuk akan merusak gigi.
2.
Mengurangi kejadian maloklusi
Telah dibuktikan bahwa salah satu
penyebab maloklusi rahang adalah kebiasaan lidah yang mendorong ke depan akibat
menyusu dengan botol dan dot
3.
Manfaat ASI untuk keluarga
ASI tidak perlu dibeli sehingga
ekonomis dan praktis karena dapat diberikan dimana saja dan kapan saja.
4.
Manfaat ASI untuk Negara
Pemberian ASI dapat menurunkan
angka kesakitan dan kematian anak, mengurangi subsidi untuk rumah sakit,
mengurangi devisa untuk membeli susu formula dan meningkatkan kualitas generasi
penerus bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar