Minggu, 27 November 2011

Tentang ASI


ASI

A. Proses Pembentukan
         Sejak kehamilan muda , sudah terdapat persiapan-persiapan pada kelenjar-kelenjar mammae untuk menghadapi masa laktasi.  Perubahan yang terdapat pada kedua mammae adalah sebagai berikut :
1.      Proliferasi jaringan, terutama kelenjar-kelenjar alveolus mammae dan lemak.
2.      Pada Duktus Laktiferus tedapat cairan yang kadang - kadang dapat dikeluarkan berwarna kuning (kolostrum).
3.      Hypervaskularisasi terdapat pada permukaan maupun pada bagian dalam mammae
Proses terbentuknya ASI
Tahapan-tahapan yang terjadi dalam proses laktasi mencakup :
1.      Mammogenesis : Terjadi pertumbuhan payudara baik dari ukuran maupun berat dari payudara mengalami peningkatan.
2.       Laktogenesis :
a.       Tahap 1 (kehamilan akhir) : Sel alveolar berubah menjadi sel sekretoris
b.      Tahap 2 (hari ke-3 hingga ke-8 kelahiran) : Mulai terjadi sekresi susu, payudara menjadi penuh dan hangat. Kontrol endokrin beralih menjadi autokrin.
3.      Galaktopoeisis
4.      Involution
         Pembentukan ASI dipengaruhi oleh hormon Prolaktin yang dihasilkan oleh kelenjar hypofisis. Selama terbentuk hormon estrogen oleh plasenta, maka pembentukan prolaktin terhambat. Setelah persalinan, dengan berhentinya pengaruh hormon estrogen, maka hormon prolaktin meningkat dan keadaan  ini menyebabkan kelenjar-kelenjar mammae membentuk ASI. Pada hari pertama dan kedua ASI belum keluar, tapi kolostrum sudah keluar.
         Ada dua refleks yang sangat penting dalam proses produksi dan pengeluaran ASI, yaitu :
1.      Refleks Prolaktin
Dalam puting susu terdapat banyak ujung saraf peraba. Bila ini dirangsang maka akan timbul impuls yang menuju hypothalamus kemudian merangsang hypofisis bagian depan sehingga kelenjar ini mengeluarkan hormon prolaktin. Hormon inilah yang memegang peranan utama dalam produksi ASI di tingkat alveolus. Dengan demikian mudah dipahami bahwa makin sering rangsangan penyusuan maka makin banyak produksi ASI.
2.      Refleks Aliran ( let down refleks)
Rangsangan yang berasal dari puting susu, tidak hanya diteruskan sampai ke kelenjar hypofisis depan, tapi juga hypofisis bagian belakang. Akibatnya bagian ini mengeluarkan hormon oksitosin. Hormon ini berfungsi memacu kontraksi otot polos yang ada di dinding alveolus dan dinding saluran, sehingga ASI dipompa keluar.
B. Komposisi ASI Sesuai Dengan Tumbuh Kembang Bayi
ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Kandungan gizi dari ASI sangat khusus dan sempurna serta sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang bayi. ASI dibedakan dalam tiga fase :
1.      Kolostrum
Kolostrum adalah air susu yang pertama kali keluar. Kolostru ini disekresi oleh kelenjar payudara pada hari npertama sampai hari ke empat pasca persalinan. Kolostrum merupakan cairan dengan viskositas kental, lengket dan berwarna kekuningan. Kolostrum mengandung tinggi protein, mineral, garam, vitamin A, nitrogen, sel darah putih dan antibody yang tinggi daripada ASI matur. Ini sangat dibutuhkan bayi karena pada masa ini bayi sangat rentan terhadap penyakit. Selain itu , kolostrum masih mengandung rendah lemak dan laktosa. Protein utama pada kolostrum adalah Immunoglobulin (Ig A, Ig G, Ig M), yang digunakan sebagai zat antibody untuk mencegah dan menetralisir bakteri, virus, jamur, dan parasit.
Meskipun kolostrum yang keluar sedikit menurut ukuran kita, tetapi volume kolostrum yang ada dalam payudara mendekati kapasitas lambung bayi yang berusia 1-2 hari.Volume kolostrum antara 150-300 ml/24 jam.
Kolostrum juga merupakan pencahar ideal untuk membersihkan zat yang tidak terpakai dari usus bayi baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan bayi untuk menerima makanan selanjutnya.
2.      ASI transisi
Adalah ASI yang keluar sesudah kolostrum sampai sebelum ASI matang, yaitu sejak hari ke-4 sampai hari ke-10. Selam 2 minggu, volume air susu bertambah banyak dan berubah warna sera komposisinya. Kadar Immunoglobulin dean protein menurun, sedangkan lemak dan laktosa meningkat.
3.      ASI matur
ASI matur disekresi pada hari ke-10 dan seterusnya. ASI matur tampak berwarna putih. Kandungan ASI matur relatif konstan, tidak menggumpal bila dipanaskan. Ais susu yang mengalir pertama kali (5 menit pertama) disebut foremik. Foremik ini lebih encer. Foremik mempunyai kandungan rendah lemak dan tinggi laktosa, gula protein, mineral, dan air.
Selanjutnya, air susu berubah menjadi hindmilk. Hindmilk kaya akan lemak dan nutrisi. Hindmilk membuat bayi akan lebih cepat kenyang. Ini sangat dibutuhkan bayi sesuai dengan tingkat tumbuh kembangnya.
C.  Nutien Yang Terkandung Dalam ASI
1.      Lemak
Sumber kalori utama dalam ASI adalah lemak. Kadar lemak dalam ASI antara 3,5-4,5%. Walaupun kadar lemak dalam ASI tinggi, tetapi mudah diserap oleh bayi karena trigliserida dalam ASI lebih dulu dipecah menjadi asam lemak dan gliserol oleh enzim lipase yang terdapat dalam ASI. Kadar kolesterol ASI lebih tinggi daripada susu sapi, sehingga bayi yang mendapat ASI seharusnya mempunyai kadar kolesterol darah lebih tinggi, tetapi ternyata penelitian Osborn membuktikan bahwa bayi yang tidak mendapat ASI lebih banyak menderita penyakit jantung koroner pada usia muda.
Diperkirakan bahwa pada masa bayi diperlukan kolesterol pada kadar tertentu untuk merangsang pembentukan enzim protektif yang membuat metabolisme kolesterol menjadi efektif pada usia dewasa.
2.      Karbohidrat
Karbohidrat utam dalam ASI adalah laktose, yang kadarnya paling tinggi dibanding susu mamalia lain (7gr%). Laktose mudah dipecah menjadi glukose dan galaktose dengan bantuan enzim laktase yang sudah ada dalam mukose saluran pencernaan sejak bayi lahir. Laktose mempunyai manfaat lain, yaitu mempertinggi absorbsi kalsium dan merangsang pertumbuhan laktobasilus bifidus.
3.      Protein
Protein dalam susu adalah chasein dan whey. Kadar protei ASI sebesar 0,9%. 60% di antaranya adalah whey, yang lebih mudah dicerna dibanding chasein (protein utama dalam susu sapi). Kecuali mudah dicerna, dalam ASI terdapat dua macam asam amino yang tidak terdapat dalam susu sapi, yaitu sistin dan taurin. Sistin diperlukan untuk pertumbuhan somatik, sedangkan taurin untuk pertumbuhan otak. Selain dari ASI, sebenarnya sistin dan taurin dapat diperoleh dari penguraian tirosin, tetapi pada bayi baru lahir pengurai tirosin ini belum ada.
4.      Garam dan Mineral
Ginjal neonatus belum dapat mengonsentrasikan air kemih dengan baik, sehingga diperlukan susu dengan kadar garam dan mineral yang rendah. ASI mengandung garam dan mineral lebih rendah dibanding susu sapi.Bayi yang mendapat susu sapi atau susu formula yang tidak dimodifikasi dapat menderita tetani karena hypokalsemia.
Kadar kalsium dalam susu sapi lebih tinggi dibanding ASI, tetapi kadar fosfornya jauh lebih tinggi, sehingga mengganggu penyerapan kalsium juga magnesium.
ASI dan susu sapi mengandung zat besi dalam kadar yang tidak terlalu tinggi, tetapi zat besi dalam ASI lebih mudah diserap. Dalam badan bayi terdapat cadangan zat besi, di samping itu terdapat zat besi yang berasal dari eritrosit yang pecah, bila ditambah zat besi yang berasal dari ASI, maka bayi akan cukup mendapat zat besi sampai usia 6 bulan.
Zink diperlukan untuk tumbuh kembang, sistem immunitas dan mencegah penyakit-penyakit tertentu seperti akrodermatitis enteropatika (penyakit yang mengenai kulit dan sisitem pencernaan dan dapat berakibat fatal). Bayi yang mendapat ASI cukup medapatkan zink sehingga terhindar dari penyakit ini.
5.      Vitamin
ASI cukup mengandung vitamin yang diperlukan bayi. Vitamin K yang berfungsi sebagai katalisator pada proses pembekuan darah terdapat dalam ASI dalam jumlah yang cukup dan mudah diserap.
Dalam ASI juga banyak vitamin E, terutama kolostrum.
Dalam ASI juga terdapat vitamin D, tetapi bayi prematur atau yang kurang mendapat sinar matahari (di negar empat musim), dianjurkan pemberian suplemen vitamin D.
D. Zat Protektif Yang Terdapat Dalam ASI
         Bayi yang mendapat ASI  lebih jarang menderita penyakit, karena adanya zat protektif dalam ASI. Zat protektif tersebut di antaranya :
1.      Laktobasilus Bifidus
Laktobasilus Bifidus berfungsi mengubah laktose menjadi asam laktat dan asam asetat. Kedua asam ini menjadikan saluran pencernaan bersifat asam sehingga menghambat pertumbuhan mikroorganisme seperti E.Coli (yang sering menyebabkan diare pada bayi), Shigela dan jamur. Laktobasilus mudah tumbuh cepat dalam usus bayi yang mendapat ASI, karena ASI mengandung polisakarida yang berikatan dengan nitrogen yang diperlukan untuk pertumbuhan Laktobasilus Bifidus. Susu sapi ini tidak mengandung faktor ini.
2.      Laktoferin
Laktoferin adalah protein yang berikatan dengan zat besi. Konsentrasinya dalam ASI sebesar 100 mg/100 ml, tertinggi di antar semua cairan biologis. Dengan mengikat zat besi, maka laktoferin bermanfaat menghambat pertumbuhan  kuman tertentu, yaitu stafilokokus dan E.coli yang juga memerlukan zat besi untuk pertumbuhannya. Kecuali menghambat bakteri tersebut, laktoferin juga menghambat pertumbuhan jamur kandida.
3.      Lisozim
Lisozim adalam enzim yang dapat memecah dinding bakteri. Konsentrasinya dalam ASI sebesar 29-39 mg/100 ml, merupakan konsentrasi terbesar di dalam cairan ekstraseluler. Kadar Lisozim ASI 300 kali lebih tinggi dibanding susu sapi. Lisozim stabil dalam cairan dengan pH rendah seperti cairan lambung, sehingga masih banyak dijumpai lisozim dalam tinja bayi.
4.      Komplemen C3 dan C4
Kedua komplemen ini walaupun kadarnya dalam ASI rendah, mempunyai daya opsonik, anafilaktosik, dan kemotaktik, yang bekerja apabila diaktifkan oleh IgA dan IgE yang juga terdapat dalam ASI.
5.      Faktor antistreptococcus
Dalam ASI terdapat faktor antistreptococcus yang melindungi bayi terhadap infeksi kuman tersebut.
6.      Antibody
Secara elektroforetik, kromatografikdan radio immunoassayterbukti bahwa ASI terutama kolostrum mengandung Immunoglobulin,yaitu sekretori IgA (SigA), IgE,IgM, dan IgG. Dari semua Immunoglobulin tersebut yang terbanyak adalah SigA. Antibody dalam ASI dapat bertahan di dalam saluran pencernaan bayi karena tahan terhadap asam dan enzim proteolitik saluran pencernaan dan membuat lapisan pada mukosanya sehingga mencegah bakteri patogen dan enterovirus masuk ke dalam mukosa usus.
Dalam tinja bayi yang mendapat ASI terdapat antibodi terhadap bakteri E.Coli dalam konsentrasi yang tinggi sehingga bakteri E.Coli dalam tinja bayi tersebut juga rendah.
Di dalam ASI kecuali antibodi terhadap enterotoksin E.Coli, juga pernah dibuktikan adanya antibodi terhadap salmonella Typhii, Shigella,dan antibodi terhadap virus seperti rotavirus, polio, dan campak.
Antibodi terhadap rotavirus tinggi dalam kolostrum, yang kemudian turun pada minggu pertama dan bertahan sampai umur 2 tahun.
Dalam ASI juga terdapat antigen terhadap Helicobacter Jejuni penyebab diare. Kadarnya dalam kolostrum tinggi dan menurun pada usia 1 bulan dan kemudian menetap selama menyusui.
7.      Immunitas seluler
ASI mengandung sel-sel. Sebagian besar (90%) sel tersebut berupa makrofag yang berfungsi membunuh dan memfagositosis mikroorganisme, membentuk C3 dan C4, lisozim, dan laktoferin. Sisanya (10%) terdiri dari lifosit B dan T. Angka leukosit pada kolostrum kira-kira 5000/ml, setara dengan angka leukosit darah tepi, tetapi komposisinya berbeda dengan darah tepi, karena hampir semuanya berupa polimorfonuklear dan mononuklear. Dengan meningkatnya volume ASI angka leukosit menurun menjadi 2000/ml. Walaupun demikian kapasitas antibakterinya sama sepanjang stadium laktasi.
Konsentrasi faktor antiinfeksi tinggi dalam kolostrum.
Kadar SigA, laktoferin, Lisozim, dan sel seperti makrofag, neutrofil dan limfosit lebih tinggi pada ASI prematur dibanding ASI matur.
8.      Tidak menimbulkan alergi
Pada bayi baru lahir sistem IgE belum sempurna. Pemberian susu formula akan merangsang aktifasi sistem ini dan dapat menimbulkan alergi.ASI tidak menimbulkan efek ini. Pemberian protein asing yang ditunda sampai umur 6 bulan akan mengurangi kemungkinan alergi ini.

E. Pembahasan
              Air Susu Ibu (ASI) adalah minuman alamiah utama untuk semua bayi cukup bulan yang diperuntukan selama usia bulan-bulan pertama kehidupan bayi (Nelson, 2000). ASI dianggap sebagai nutrisi terbaik bagi neonatus dan infant. ASI selalu mudah tersedia pada suhu yang sesuai diinginkan bayi dan tidak memerlukan banyak waktu untuk persiapannya. Substansi ASI segar dan bebas dari kontaminasi bakteri yang berbahaya sehingga mengurangi peluang gangguan pencernaan.
         Berbagai kandungan dari susu ibu dapat memfasilitasi transisi kehidupan bayi dari in utero menjadi ex utero. Cairan dinamis ini menyediakan berbagai substansi bioaktif yang diperlukan bagi perkembangan bayi selama periode kritis pertumbuhan otak, sistem imunitas dan saluran pencernaan. Selama masa laktasi kelenjar air susu berkembang hingga mencapai kapasitasnya untuk memproduksi ASI melalui berbagai tahapan perkembangan.
              Komposisi ASI yang keluar pada hari pertama sampai hari ke-4 (kolostrum) berbeda dengan ASI yang diproduksi  hari ke-4 sampai hari ke-7/10 (ASI transisi) dan ASI selanjutnya ( ASI matur). Komposisi tersebut sesuai dengan kebutuhan bayi pada keadaan masing-masing.
ASI mengandung zat gizi yang sangat lengkap, antara lain zat putih telur, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, faktor pertumbuhan, hormone, enzim, dan zat kekebalan. Semua zat ini terdapat secara proporsional dan seimbang satu dengan lainnya. ASI merupakan nutrisi yang paling lengkap untuk pertumbuhan bayi, sehingga tidak mungkin ditiru oleh buatan manusia.
         Pemberian ASI  sangat dianjurkan bagi bayi karena memberikan keuntungan yang sangat besar. Bayi yang diberikan ASI (setidaknya selama 6 bulan) memiliki penurunan resiko terhadap berbagai penyakit akut maupun kronis, termasuk infeksi saluran pencernaan (diare), infeksi saluran nafas bawah (flu), infeksi saluran kencing, infeksi telinga (otitis media), dan reaksi alergi (seperti dermatitis atopi dan asma). ASI berisi antibodi bakteri dan virus termasuk kadar antibodi IgA sekretori dan makrofag dalam kolostrum yang relatif tinggi hingga mampu mencegah mikroorganisme.
            Selain itu, anak yang diberikan ASI secara penuh selama 6 bulan atau lebih memiliki kecenderungan untuk memperoleh perkembangan mental yang lebih tinggi dibandingkan bayi yang tidak diberikan ASI. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa efek dari ASI kemungkinan melindungi anak atau remaja dari kelebihan berat badan. ASI dari ibu yang dietnya cukup imbang dan bergizi akan memasok nutrisi yang sangat diperlukan bayi.
     Menyusui dengan ASI sangat bermanfaat bagi psikologis ibu maupun bayi dan memberikan pengalaman yang memuaskan bagi keduanya. Ibu yang secara pribadi terlibat dalam pengasuhan bayinya akan memperbesar perasaan berbahagia dan prestasi sebagai ibu yang baik. Bayi diberikan kedekatan hubungan fisik dengan ibu yang baik dan menyenangkan. Menyusui memberikan tambahan kesempatan untuk berkontak rasa yang erat antara ibu dan bayinya.
         Secara rinci dapat dijelaskan beberapa keuntungan pemberian ASI dilihat dari beberapa aspek.
1.      Aspek Gizi.
a.       Manfaat Kolostrum
1)      Kolostrum mengandung zat kekebalan terutama IgA untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi terutama diare.
2)      Jumlah kolostrum yang diproduksi bervariasi tergantung dari hisapan bayi pada hari-hari pertama kelahiran. Walaupun sedikit namun cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi. Oleh karena itu kolostrum harus diberikan pada bayi.
3)      Kolostrum mengandung protein,vitamin A yang tinggi dan mengandung karbohidrat dan lemak rendah, sehingga sesuai dengan kebutuhan gizi bayi pada hari-hari pertama kelahiran.
4)      Membantu mengeluarkan mekonium yaitu kotoran bayi yang pertama berwarna hitam kehijauan.

                      a.         Komposisi ASI
1)      ASI mudah dicerna, karena selain mengandung zat gizi yang sesuai, juga mengandung enzim-enzim untuk mencernakan zat-zat gizi yang terdapat dalam ASI tersebut.
2)      ASI mengandung zat-zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi/anak.
3)      Selain mengandung protein yang tinggi, ASI memiliki perbandingan antara Whei dan Casein yang sesuai untuk bayi. Rasio Whei dengan Casein merupakan salah satu keunggulan ASI dibandingkan dengan susu sapi. ASI mengandung whey lebih banyak yaitu 65:35. Komposisi ini menyebabkan protein ASI lebih mudah diserap. Sedangkan pada susu sapi mempunyai perbandingan Whey :Casein adalah 20 : 80, sehingga tidak mudah diserap.
4)      Komposisi Taurin, DHA dan AA pada ASI
a)      Taurin adalah sejenis asam amino kedua yang terbanyak dalam ASI yang berfungsi sebagai neuro-transmitter dan berperan penting untuk proses maturasi sel otak. Percobaan pada binatang menunjukkan bahwa defisiensi taurin akan berakibat terjadinya gangguan pada retina mata.
b)      Decosahexanoic Acid (DHA) dan Arachidonic Acid (AA) adalah asam lemak tak jenuh rantai panjang (polyunsaturated fatty acids) yang diperlukan untuk pembentukan sel-sel otak yang optimal. Jumlah DHA dan AA  dalam ASI sangat mencukupi untuk menjamin pertumbuhan dan kecerdasan anak. Disamping itu DHA dan AA dalam tubuh dapat dibentuk/disintesa dari substansi pembentuknya (precursor) yaitu masing-masing dari Omega 3 (asam linolenat) dan Omega 6 (asam linoleat).

2.      Aspek Imunologik
                        a.         ASI mengandung zat anti infeksi, bersih dan bebas kontaminasi.
                       b.         Immunoglobulin A (Ig.A) dalam kolostrum atau ASI kadarnya cukup tinggi. Sekretori Ig.A tidak diserap tetapi dapat melumpuhkan bakteri patogen E. coli dan berbagai virus pada saluran pencernaan.
                        c.         Laktoferin yaitu sejenis protein yang merupakan komponen zat kekebalan yang mengikat  zat besi di saluran pencernaan.
                       d.         Lysosim, enzym yang melindungi bayi terhadap bakteri (E. coli dan salmonella) dan virus. Jumlah lysosim dalam ASI 300 kali lebih banyak daripada susu sapi.
                        e.         Sel darah putih pada ASI pada 2 minggu pertama lebih dari 4000 sel per mil. Terdiri dari 3 macam yaitu: Brochus-Asociated Lympocyte Tissue (BALT) antibodi pernafasan, Gut Asociated Lympocyte Tissue (GALT) antibodi  saluran pernafasan, dan Mammary Asociated Lympocyte Tissue (MALT) antibodi jaringan payudara ibu.
                        f.          Faktor bifidus, sejenis karbohidrat yang mengandung nitrogen, menunjang pertumbuhan bakteri lactobacillus bifidus. Bakteri ini menjaga keasaman flora usus bayi dan berguna untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang merugikan.

3.      Aspek Psikologik
                        a.         Rasa percaya diri ibu untuk menyusui : bahwa ibu mampu menyusui dengan produksi ASI yang mencukupi untuk bayi. Menyusui dipengaruhi oleh emosi ibu dan kasih saying terhadap bayi akan meningkatkan produksi hormon terutama oksitosin yang pada akhirnya akan meningkatkan produksi ASI.
                       b.         Interaksi Ibu dan Bayi: Pertumbuhan dan perkembangan psikologik bayi tergantung pada kesatuan ibu-bayi tersebut.
                        c.         Pengaruh kontak langsung ibu-bayi : ikatan kasih sayang ibu-bayi terjadi karena berbagai rangsangan seperti sentuhan kulit (skin to skin contact). Bayi akan merasa aman dan puas karena bayi merasakan kehangatan tubuh ibu dan mendengar denyut jantung ibu yang sudah dikenal sejak bayi masih dalam rahim.

4.      Aspek Kecerdasan
                        a.         Interaksi ibu-bayi dan kandungan nilai gizi ASI sangat dibutuhkan untuk perkembangan system syaraf otak yang dapat meningkatkan kecerdasan bayi.
                       b.         Penelitian menunjukkan bahwa IQ pada bayi yang diberi ASI memiliki IQ point 4.3 point lebih tinggi pada usia 18 bulan, 4-6 point lebih tinggi pada usia 3 tahun, dan 8.3 point lebih tinggi pada usia 8.5 tahun, dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI.

5.      Aspek Neurologis
Dengan menghisap payudara, koordinasi syaraf menelan, menghisap dan bernafas yang terjadi pada bayi baru lahir dapat lebih sempurna.

6.      Aspek Ekonomis
Dengan menyusui secara eksklusif, ibu tidak perlu mengeluarkan biaya untuk makanan bayi sampai bayi berumur 4 bulan. Dengan demikian akan menghemat pengeluaran rumah tangga untuk membeli susu formula dan peralatannya.
7.      Aspek Penundaan Kehamilan
Dengan menyusui secara eksklusif dapat menunda haid dan kehamilan, sehingga dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi alamiah yang secara umum dikenal sebagai Metode Amenorea Laktasi (MAL).

     Selain beberapa aspek di atas, masih ada beberapa manfaat ASI yang lain, di  antaranya yaitu :
1.      Mengurangi kejadian karies dentis
Insiden karies dentis pada bayi yang mendapat susu formula jauh lebih tinggi disbanding yang mendapat ASI, karena kebiasaaan menyusui dengan botol dan dot terutama pada waktu akan tidur menyebabkan gigi lebih lama kontak dengan sisa susu formula dan menyebabkan asam yang terbentuk akan merusak gigi.
2.      Mengurangi kejadian maloklusi
Telah dibuktikan bahwa salah satu penyebab maloklusi rahang adalah kebiasaan lidah yang mendorong ke depan akibat menyusu dengan botol dan dot
3.      Manfaat ASI untuk keluarga
ASI tidak perlu dibeli sehingga ekonomis dan praktis karena dapat diberikan dimana saja dan kapan saja.
4.      Manfaat ASI untuk Negara
Pemberian ASI dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian anak, mengurangi subsidi untuk rumah sakit, mengurangi devisa untuk membeli susu formula dan meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar